• header
  • header
  • banner 2019

Selamat Datang di Website SMK Negeri 6 Batam | Tetap Mengikuti Protokol Kesehatan Covid-19 | JAGA JARAK, MEMAKAI MASKER, SELALU MENERAPKAN HIDUP SEHAT | SMK BISA SMK HEBAT | Terima Kasih Kunjungannya

Pencarian

Daftar PPDB ONLINE 2020

Statistik


Total Hits : 475968
Pengunjung : 150311
Hari ini : 63
Hits hari ini : 151
Member Online : 25
IP : 18.232.146.10
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Posisi anak sebagai kurir narkoba dimata hukum




Penyalahgunaan narkotika dan psikotropika merupakan suatu problema yang sangat kompleks, karena itu butuh kesadaran dari semua pihak baik dari pemerintah, masyarakat maupun pelaku itu sendiri untuk segera sadar akan bahaya tersembunyi, tidak kelihatan (tetapi mempunyai potensi untuk muncul) dari penyalahgunaan narkotika dan psikotropika. Salah satu upaya pemerintah untuk mengatasi masalah ini dengan membuat Undang-undang Nomor 5 tahun 1997 tentang Psikotropika dan Undang-undang Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika yang sekarang telah diperbarui menjadi Undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Menanggapi tindak pidana narkotika semakin meningkat, sudah tentu akan menambah berat beban tugas aparat penegak hukum.

Kesadaran akan hukum merupakan salah satu aspek yang penting dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, seperti yang telah kita ketahui pada dasarnya dalam segala sesuatu yag kita lakukan tidak pernah terlepas dari aspek hukum yang berlaku di masyarakat. Dewasa ini kesadaran akan hukum seolah telah di lupakan oleh masyarakat sehingga mereka bertindak dengan semena-mena, tanpa memperdulikan orang lain. Sebagai contoh akibat dari kesadaran hukum yang kurang pada kalangan remaja maka sering kali para remaja melakukan tindakan sesuai dengan keinginan hatinya tanpa mempedulikan hukum yang berada di sekitar mereka, seperti marak nya saat ini penyalah gunaan obat-obat terlarang, akibat prilaku remaja yang cenderung ke arah kriminalitas ini dapat menghambat daya saing lokal terhadap persaingan dengan bangsa lain, hal ini dapat menghancurkan generasi muda negara kita yang dalam beberapa tahun bukan tidak mungkin dapat menghancurkan negara tercinta kita ini.

Banyaknya pelanggaran hukum yang terjadi belakangan ini merupakan salah satu akibat dari kurangnya kesadaran hukum dalam masyarakat, kita dapat dengan mudah menemukan pelanggaran-pelanggaran hukum yang ada disekitar kita, seperti pelanggaran lalulintas, penggunaan obat-obat psikotropika terlarang, pencurian, penipuan, dan lain sebagainya, contoh-contoh tindakan diatas saat ini seolah menjadi hal yang sudah biasa dikalangan masyarakat terutama dikalangan remaja, hal ini tentunya akan menjadi suatu hal yang sangat menakutkan untuk kita terima karena akan di bawa kemanakah negara kita ini jika tindakan kriminal sudah dianggap menjadi hal yang biasa.

Narkoba telah menjadi suatu fenomena yang sangat meresahkan dalam perkembangan moral generasi muda di Indonesia. Jumlah kasus yang semakin meningkat dari tahun ke tahun mengundang berbagai macam reaksi dari berbagai lapisan masyarakat dan pemerinatah untuk mencari jalan terbaik dalam menanggulangi fenomena ini. Data penelitian terbaru dari tahun 2005 yang dilakukan oleh pusat penelitian dan pengembangan informatika BNN menunjukkan bahwa kejahatan akibat penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba telah melahirkan beberapa fenomena kejahatan manusia yang bersifat trans nasional. Berbagai tindak kriminal yang ditimbulkan akibat penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba antara lain : terorisme, perdagangan gelap wanita dan anak, pencucian uang, kejahatan dunia maya, pembajakan laut, penyelundupan senjata, dan kejahatan bidang ekonomi dan social. Dari segi jumlah penyalahguna narkoba di Indonesia menunjukkan angka yang semakin meningkat yang diketahui angka prevalensi 1,5 % atau sebesar 3,2 juta orang sementara itu dari segi usia ditemukan fakta bahwa penyalahgunaan narkoba sudah mulai pada usia 10-19 tahun dan tertinggi adalah pada kelompok 20-29 tahun. Salah satu hal yang patut dicermati adalah bahwa ada peningkatan persentase penyalahgunaan narkoba yang terjadi di rumah kos.

Hal ini menunjukkan bahwa kurangnya pengawasan dari lingkungan sekitar membuat penyalahgunaan narkoba menjadi semakin tinggi persentasenya. Dengan demikian maka cara yang terpadu untuk membuat masyarakat lebih waspada sangatlah diperlukan salah satunya adalah dengan mensosialisasikan ciri-ciri atau kebiasaan penyalahgunaan narkoba sehingga langkah antisipasi dini bisa dilakukan di lingkungan disekeliling kita.

Selain masalah itu sekarang juga mencuat kasus baru dan juga sangat meresahkan masyarakat, sekolah dan juga para orang tua, dimana anak bukan hanya dijadikan sasaran asumsi narkoba saja akan tetapi sudah merambat pada dijadikannya anak sebagai kurir untuk mengantar narkoba kesuatu tempat. Hal itu dilakukan oleh pengedar narkoba untuk mengelabuhi pihak yang berwajib, kepolosan anak dijadikan senjata baru dalam pengedaran narkoba di Indonesia dan dianggap cara yang paling aman untuk bertransaksi. Sehingga sering kali membuat pihak yang berwajib kecolongan, walaupun terjaring razia atau tertangkap tangan akan tetapi pihak pengedar menyadari bahwa anak yang disuruh mengantarkan barang tidak akan dihukum karena masih dalam bawah umur. Akan tetapi disinilah peran kerja pihak yang berwajib mempunyai andil besar untuk menentukan dan lebih jauh menelisik sebab muhasabab si anak menjadi kurir narkoba tersebut. Jangan sampai nantinya anak yang menjadi korban dalam hal itu.

Dari sisi defenisi anak merupakan generasi muda penerus cita-cita bangsa dan merupakan sumber daya manusia bagi pembangunan nasional. Anak dalam pemaknaan yang umum mendapat perhatian baik dalam bidang ilmu pengetahuan, agama, hukum, dan sosiologi yang menjadikan pengertian anak semakin aktual dalam lingkungkan sosial. Kedudukan anak dalam lingkungan hukum hukum sebagai subjek hukum ditentukan dari sistem hukum terhadap anak sebagai kelompok masyarakat yang berada di dalam status hukum dan tergolong tidakmampu atau di bawah umur. Maksud tidak mampu karena kedudukan akal dan pertumbuhan fisik yang sedang berkembang dalam diri anak yang bersangkutan. Meletakkan anak sebagai subjek hukum yang lahir dari proses sosialisasi berbagai nilai kedalam peristiwa hukum pidana maupun hubungan kotrak yang berada dalam lingkup hukum perdata menjadi mata rantai yang tidak dapat dipisahkan. Anak merupakan potensi sumber daya manusia di masa depan.

Pengertian anak menurut ketentuan Undang-undang Nomor 3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak Pasal 1 angka 1 dan angka 2 perihal ketentuan umum adalah sebagi berikut ; Pasal 1 angka 1 Anak adalah orang yang dalam perkara anak nakal telah mencapai umur 8 (delapan) tahun tetapi belum mancapai umur 18 (delapan belas) tahun dan belum pernah kawin. Pasal 1 angka 2 Anak nakal adalah a. anak yang melakukan tindak pidana atau, b. anak yang melakukan tindakan dinyatakan terlarang bagi anak, baik menurut peraturan perundang-undangan maupun menurut peraturan hokum lain yang hidup dan berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan.

Berdasarkan pasal-pasal yang telah ditulis sebagaimana hal diatas, maka apabila yang melakukan tindak pidana penyalahgunaan narkotika dan psikotropika dmasih belum dewasa, maka yang menjadi acuan adalah Undang-undang Nomor 3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak. Pengertian anak menurut ketentuan Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Undang – undang Perlindungan Anak Pasal 1 angka 1 adalah sebagaiberikut : Pasal 1 angka 1 Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Anak memerlukan perlindungan dalam rangka menjamin pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental, sosial secara utuh yang selaras dan seimbang. Maka dari itu, dalam hal pengenaan sanksi tindak pidana yang dilakukan oleh orang yang dewasa dan orang yang belum dewasa harus dibedakan. Proses pemeriksaan perkara anak dilakukan secara tertutup sesuai dengan ketentuan Pasal 42 ayat (3) Undang-undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak (selanjutnya disebut Undang-undang Pengadilan Anak) menyatakan bahwa proses penyidikan anak wajib dirahasiakan. Oleh karena itu semua tindakan penyidik dalam rangka penyidikan anak wajib dirahasiakan, dan tanpa ada kecualinya.

Sebagai posisi kurir yang bekerja sebagai pengantar sebuah barang yang diimbalidengan suatu hadiah atau uang, anak yang masih lugunya pasti akan mudah terjelit permasalahan tersebut, dimana disatu sisi dia mendapatkan imbalan akan pekerjaan tersebut dan disatu sisi dia bisa membantu ekonomi keluarga dalam bekerja. Dari maka itu posisi anak sebagai kurir narkoba dari sisi hukum harus dipertegas jangan sampai hukum yang diharapkan tegak malah bingung dengan fenomena ini dikarenakan posisi anak disini bukan lah posisi penyalahguna ataupun pemakai narkoba akan tetapi pengantar narkoba.

Penulis : Andre S.Pd (Guru Pkn SMKN6 Batam) 




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas